Yang Maha Mengetahui Segala Sesuatu
"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya..." (QS. Al-An'am: 59)
Ayat ini merupakan bukti absolut bahwa pengetahuan Allah bersifat mikroskopis sekaligus makroskopis. Tidak ada satupun atom yang bergerak di dasar samudera, atau sehelai daun yang jatuh di tengah hutan belantara, melainkan semua tercatat dalam ilmu-Nya.
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QS. Qaf: 16)
Ilmu Allah melampaui ucapan lisan. Dia adalah Al-'Aliim yang memonitor lintasan pikiran (was-was) dalam hati sebelum pikiran itu sendiri disadari oleh pemiliknya.
Ketika dunia tidak memahami rasa sakitmu, ingatlah bahwa Al-'Aliim mengetahui setiap tetes air mata yang jatuh dalam sujud malammu.
Sifat Al-'Aliim melahirkan rasa malu untuk bermaksiat, karena kita sadar tak ada sudut gelap yang bisa menyembunyikan kita dari pandangan-Nya.
Ilmu manusia hanyalah setetes air di ujung jari yang dicelupkan ke samudra. Tak layak bagi kita untuk sombong di hadapan Sang Pemilik Ilmu.
Allah tahu apa yang terbaik untukmu sebelum kamu memintanya. Dia menunda doamu bukan karena tidak tahu, tapi karena Dia tahu kapan waktu yang paling tepat.
Allah juga disebut sebagai Al-Khabir (Maha Mengenal hal yang terperinci) dan As-Samii' (Maha Mendengar). Kesempurnaan sifat-Nya adalah bukti bahwa kita berada dalam penjagaan yang sempurna.
"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat."